sumber gambar : https://finance.detik.com/moneter/d-3918153/jokowi-kasih-pr-pimpinan-perbankan-untuk-buat-kredit-pendidikan
Mulai dari wajan, rumah, mobil, kini uang sekolah juga bisa
di kredit~
Ketika
marak-maraknya diperbincangkan betapa besarnya utang pemerintah dan beberapa
tokoh yang berseberangan dengan pemerintah membonceng isu tersebut untuk
menyerah pemerintah, Presiden Jokowi malah mengusulkan sesuatu yang ajaib soal
utang.
Presiden memberi
permintaan kepada perbankan untuk mengeluarkan inovasi produk finansial baru
berupa kredit pendidikan atau yang biasa disebut student loan. Dengan harapan agar rakyat Indonesia yang tidak bisa
mencicipi bangku sekolah karena kurang mampu dapat meraih impian mereka
masing-masing dengan bersekolah.
Menurut saya,
gagasan ini memang realistis dan rasional. Yang membutuhkan pinjaman
dipertemukan dengan yang memberikan pinjaman. Bagi yang membutuhkan biaya,
gagasan tersebut dapat terlihat menjadi solusi yang paling praktis
Karena usulan
ini belum dikaji lebih lanjut, maka baik dan buruknya kebijakan tersebut
bergantung pada persepektif yang ada. Bagi yang membutuhkan biaya, program ini
bisa jadi bermanfaat, tapi jangan lupa kreditur juga punya kebijakan dan
peraturan sendiri dalam mengatur program tersebut. Jika dari sisi pihak
bank/kreditur, program tersebut dapat menjadi pisau bermata dua. Banyak resiko
yang harus diambil ketika memberikan pinjaman. Makanya seringkali pihak
kreditur ragu-ragu untuk mengeksekusi program tersebut. UKM yang jelas sudah
menghasilkan dan memiliki usaha yang layak untuk diberi akses bank saja sering
dinilai tidak memenuhi syarat yang ditetapkan. Bagaimana mahasiswa? Yang
rata-rata masih harus luntang lantung mencari lowongan pekerjaan untuk tetap
hidup setelah lulus dari bangku perkuliahan. Sekolah untuk hidup, hidup untuk
bayar utang.
Niatan membuat
kredit pendidikan memang seperti angin segar mengingat inflasi biaya pendidikan
semakin melambung karena semakin dikomersialisasikan. Saya dan mungkin Anda
pembaca sepakat bahwa bukan salah PTN/PTS yang harus meningkatkan kinerja mesin
uang mereka, memang karena kebijakan pemerintah mereka harus bertahan untuk menghidupi
biaya operasional mereka.
Lantas apakah kredit pendidikan dan menjadi solusi dari
masalah struktural tersebut?
Menurut saya
tidak, karena Indonesia belum memiliki pemerintahan yang memilik intergritas
dan keteguhan tinggi untuk mengingkatkan pendidikan di negaranya sendiri dan
pihak bank yang susah ambil resiko. Lantas bagaimana program student loan ini diterapkan di negara
lain? Mari kita melihat negara Amerika Serikat yang telah menerapkan program
ini sejak lama.
Mengutip dari
majalah Time edisi 2014, pada salah
satu artikel diceritakan seorang mahasiswa yang mengambil student loan untuk
mengikuti perkuliahan jurusan kedokteran di suatu perguruan tinggi di Amerika
Serikat mengaku merasa khawatir dan tidak lega setelah lulus kuliah, karena
masih terbayang-bayang cicilan utang kuliah yang belum dibayar serta kewajiban
untuk melunasinya.
Amerika Serikat
bukan dia saja yang mengambil program ini. 70% di antaranya memilih kuliah
dengan cara memanfaatkan kredit pendidikan. Uang yang terkumpul juga terhitung
besar kalua dikumpulkan, sekitar US$1.3 trilliun, sedangkan utang pemerintah
yang katanya “cuma” Rp4 Ribu trilliun itu hanya sekitar seperempatnya saja.
Kembali lagi ke
mahasiswa di majalah Time yang merasa
cemas dan tertekan, saya membayangkan juga jika mahasiswa mampu menahan tekanan
yang Anda atau tidak. Menurut saya mental mahasiswa setelah lulus S1 masih baru
pada tahap utang kopi atau beberapa bungkus mie di warkop kesayangan. Jika
mereka mendadak disuruh mengembalikan utang yang bernilai puluhan atau ratusan
juta bagaimana?
Dan belum lagi
jika ada mahasiswa yang dilemma mengaku merasa “salah” jurusan dan sudah
terlanjur mengambil kredit pendidikan. Kebebasan meninggalkan kuliah tanpa
embel-embel kepikiran angsuran utang akan terenggut. Maka dari itu calon
mahasiswa harus memperhitungkan terlebih dahulu jurusan apa yang ingin
benar-benar ingin ditekuni agar kredit pendidikan memiliki manfaat bagi yang
membutuhkan.
0 komentar: